Rabu, 22 April 2015

Kimi no koe series

Kimi no koe
(Bagian 1)

27 Mei 2010, hari dimana wafatnya ibu ku. Hari ini, 28 mei 2010 adalah hari terakhir aku memainkan alat musik piano. Waktu itu aku berpartisipasi di sebuah kompetisi. Awalnya semua berjalan lancar, namun semua berantakan ketika aku mengingat hari kemarin dan wajah ibu ku. Semua nada hilang dari kepala ku dan suara piano tak mampu terdengar oleh telingaku. Tanpa sadar, jariku berhenti memainkan piano. Dan sampai saat ini aku masih merenung tentang hari itu. Hari terakhir aku memainkan alat musik yang sangat aku cintai tersebut.

Nama ku Touma. Sekarang aku berumur 16 tahun. Aku duduk di kelas 10 SMA. Sudah sekitar 3 tahun lamanya aku tidak lagi menyentuh satu tuts pun pada piano. Di sekolah club pertama yang mengundang ku untuk bergabung bukan lain adalah club musik. Tentu pertama aku menolak, tapi ada perempuan yang memaksa ku untuk bergabung bersama. Singkat cerita, akhirnya aku terpaksa bergabung. Ketua club kami bernama Minato, pemain gitar. Ada Shu sebagai drummer, Sayaka sebagai Vokalis, dan yang terakhir, Kaori sebagai violist. Ke esokan harinya dimulailah kegiatan kami sebagai music club.

Paginya aku bertemu dengan Minato. Aku dan dia sudah lama saling kenal sejak SD, jadi dia sudah tau kalau aku berhenti bermain piano dan alasannya. Meski demikian, dia menyambut ku dengan senyuman. Dia berbicara dengan ku sampai di kelas dan karena kami satu kelas, dia terus berbicara dengan ku meski jam pelajaran telah dimulai. Pada waktu istirahat, aku mendengar suara senandung di dekat tangga menuju ke atas. Karena penasaran aku mencoba mencari sumber suara dari senandung itu. Ternyata suara itu berasal dari Sayaka yang sedang berlatih di lantai paling atas di sekolah. Meski angin sangat kencang berhembus sehingga membuat rambutnya yang panjang melambai-lambai, aku mampu mendengar suaranya dengan sangat jelas. Tak mau mengganggu Sayaka yang sedang berlatih, aku memutuskan untuk kembali turun. Belum saja aku sampai ke kantin, bel selesai istirahatpun berbunyi. Di kelas aku masih merasa kelaparan. Waktu berlalu, Minato membangunkan ku dari tidur lelap ku. Di depan kelas Kaori sudah menunggu kami berdua.

"Sampe ditungguin. Hehehe." Canda ku.
"Gw takut kalo lu ga ditungguin main kabur." Jawab Kaori dengan pandangan tepat ke mataku.

Sesampainya di ruang club, sudah ada Shu dan Sayaka yang menunggu. Akhirnya latihan kami yang pertama dimulai. Kami memulai dengan awal yang bagus, namun lama-kelamaan, jariku mulai menurunkan tempo mainnya dan berhenti sama sekali. Aku hanya bisa diam dan tertunduk. Sekian detik aku terdiam, aku memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut dengan berlari. Aku melepas alas kaki ruangan ku tanpa lalu memakai sepatuku yang ada di loker. Aku kembali berlari keluar dengan bertelanjang kaki dan berhenti di taman dekat sekolah dengan telapak kaki yang terbakar oleh panas sinar matahari yang menyelimuti kulit tanah. Air mataku mengalir tak henti, bukan karna kakiku yang melepuh, bukan juga karna aku masih tak mampu memainkan piano. Tapi aku masih menangisi kepergian mendiang ibuku. Sesosok yang menjadi alasan mengapa aku bermain dan untuk terus berlatih keras. Seseorang yang sangat baik dan juga sangat sabar. Setiap nada dari piano tersebut adalah setiap tetes perjuangannya melatih ku sewaktu aku kecil. Setiap gerak jemari ku adalah senyumannya. Setiap rasa bahagia ku ketika bermain adalah bahagianya juga. Tapi semua berubah menjadi tanpa arti, sehingga nada piano mulai tak terdengar, jemariku berhenti bergerak, dan kebahagiaan berganti dengan rasa pedih dan kehilangan.

Mataharipun mulai turun, hari sudah mulai gelap. Aku masih duduk di kursi taman. Terdengar suara kaki semakin mendekat. Kaori membawa sepatu ku dan memberinya pada ku. Bisa ku lihat Minato, Sayaka, dan Shu menunggu di seberang jalan. Kaori mengajak ku pulang bersama mereka.

"Kenapa?" Tanya ku.
"Gw yang maksa lu masuk, ya gw ga bisa maksa lu buat betah apalagi niat." Jawab Kaori dengan nada sedikit kesal.
"Gw butuh waktu." Jawab ku dengan tertunduk.
"Mau sampai kapan? Seharusnya lu kalo emang ga niat, ga usah gabung." Sahut Shu.
"Shu! Kan dia bilang cuma butuh waktu." Balas Sayaka.
"Sudahlah kalian. Shu, ayo." Minato menarik Shu.

Aku, Sayaka, dan Kaori terdiam. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang terlebih dulu. Sesampainya dirumah, hanya ada suara pintu tua yang ku buka menyambut kedatangan ku. Ayah ku adalah seorang nahkoda kapal, entah kapan ia akan pulang dan pergi untuk kembali melaut, meninggalkan aku dan semua suara yang ada di rumah ini. Lelah berpikir, akupun tertidur.

Hari demi hari kami terus berlatih, aku masih terus tidak menunjukkan kemajuan. Akhirnya konser pertama kami dimulai. Aku mencoba untuk berjuang lebih keras dari yang sebelumnya untuk terus bermain, namun kali ini yang berhenti bukan aku, tetapi teman-teman ku. Suara dari pianoku sangat merusak konsentrasi mereka. Konser itupun berakhir dengan penilaian "gagal". Merasa bersalah, aku tidak dapat berkata sepatah katapun, bahkan maaf sekalipun. Aku tak terpikir bagaimana kelanjutan club ini. Apa aku harus mengundurkan diri setelah ini? Apakah aku masih mampu berada di dalam club ini setelah apa yang tadi terjadi? To be continued.